Pembagian model kepemimpinan yang dikembangkan oleh Reddin (Munandar, 2001) dikenal dengan teori tiga dimensi. Hal yang ditambahkan di dalamnya yaitu dimensi Orientasi Tugas (OT) dan dimensi Orientasi Hubungan (OH). Berdasarkan hal ini dikemukakan empat gaya dasar dalam manajerial, yang jika gaya dasar itu digunakan dalam situasi yang sesuai akan menjadi gaya manajerial yang efektif, begitu pula sebaliknya jika digunakan dalam situasi yang tidak sesuai maka akan menjadi gaya manajerial yang kurang efektif. Berikut ini adalah tabel pembagiannya:
Gaya manajerial
kurang efektif Gaya manajerial
dasar Gaya manajerial
efektif
Deserter Seperated Bureaucrat
Missionary Related Developer
Compromiser Integrated Executive
Autocrat Dedicated Benevolent Autocrat
Seperated : Gaya kepemimpinan yang sedikit menggunakan OT dan OH
Related : Gaya kepemimpinan yang terutama menggunakan perilaku OH
Integrated : Gaya kepemimpinan yang banyak menggunakan perilaku OH dan OT
Dedicated : Gaya kepemimpinan yang terutama menggunakan OT
Keempat gaya dasar inilah yang digunakan untuk menentukan gaya managerial seperti apa yang sesuai untuk suatu lembaga/perusahaan. Berikut akan dijelaskan kedelapan model managerial yang lainnya.
1. Bureaucrat : model kepemimpinan yang menekankan pada OT dan OH yang sangat sedikit dalam suatu lembaga yang didalamnya tidak terdapat kebebasan untuk membuat keputusan atau menyimpang dari prosedur yang dibuat oleh pimpinan yang memiliki kedudukan lebih tinggi (Greer, 2000).
2. Deserter : model kepemimpinan dimana pemimpin ini tidak hanya berfokus pada usaha untuk meningkatkan Orientasi Tugas karyawannya, tetapi juga berusaha untuk meningkan Orientasi Hubungan, dalam hal ini ada hubungan komunikasi yang baik antara karyawan dengan pimpinannya.
3. Developer : tipe kepemimpinan yang berusaha untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan orang-orang yang dipimpinnya dalam upaya mengembangkan lembaga yang dipimpinnya.
4. Missionary : tipe kepemimpinan yang cenderung kurang tertarik untuk menjalin hubungan dengan orang-orang yang dipimpinnya, akan tetapi pemimpin ini lebih mengutamakan bagaimana melaksanakan tugas dengan efektif.
5. Executive : tipe kepemimpinan ini dapat dikatakan telah mencapai tingkat kepemimpinan puncak. Dikatakan demikian karena pemimpin dengan tipe ini mampu menjalin hubungan yang baik dengan anggotanya, sehingga antara pemimpin dan bawahan saling memahami apa yang diinginkan oleh kedua belah pihak tersebut, sehingga dalam hal orientasi tugas yang akan diberikan pemimpin, bawahan tidak memiliki perasaan terbebani dalam menjalankan tugas. Adapun beberapa ciri-ciri yang dikemukan oleh Bennis dan Nanus (Munandar, 2001) mengenai manajer yang berhasil (chief executive officers ) yaitu:
a. Attention through vision, memiliki visi atau bayangan masa depan tentang lembaga yang dipimpinnya
b. Meaning through communication, mengkomunikasikan bayangan atau visinya pada bawahan.
c. Trust through positioning, mengimplementasikan visinya dengan cara mencari kepercayaan dari bawahannya. Hal ini dapat diperoleh jika pemimpin berperilaku konsisten dan tetap berada pada jalur yang telah disepakati.
d. The development of self through positive self-regard and through the Wallenda factor, memperluas kreatif dari diri, yang dapat dilakukan melalui menghargai diri secara positif.
6. Compromiser : tipe kepemimpinan yang kurang menekankan orientasi tugas namun hal ini tidak berarti pemimpin tersebut tidak memberi tugas kepada bawahannya. Jika pemimpin ini memberikan tugas pada bawahannya, tidak dituntut mencapai hasil yang maksimal. Pemimpin mampu menerima hasil kerja yang ditunjukkan bawahannya. Keadaan seperti ini tidak berarti pemimpin membiarkan hal ini terjadi begitu saja, akan dicoba untuk memahami penyebabnya dan jika penyebab masalah itu dapat diterima secara logis maka seorang pemimpin akan menerima keadaaan tersebut.
7. Autocrat : tipe kepimpinan dimana kekuatan/kekuasaan lembaga terletak penuh pada dirinya dan dalam proses pengambilan keputusan akhir, pemimpin ini senantiasa mengutamakan pandangan/sudut pandangnya sendiri. Dalam hal pelaksanaan tugas, bawahannya senantiasa menunggu instruksi dan hanya bertindak di bawah pengawasan pemimpin. Jika dikaitkan dengan teori tiga dimensi, maka dapat disimpulkan bahwa lembaga yang dipimpin oleh tipe kepemimpinan seperti ini memiliki orientasi tugas yang sedikit karena ketika suatu tugas akan dilaksanankan harus ada instruksi dan diawasi oleh pemimpin.
8. Benevolent Autocrat : tipe kepemimpinan yang berorientasi pada tugas tetapi tidak seekstrim model kepemimpinan autocrat. Seorang pemimpin tetap menuntut hasil yang sesuai dengan keinginan dan harapannya, namun dalam pelaksanaan tugas tidak terlalu menekan bawahannya (tidak mengawasi sepanjang pelaksanaan tugas, memberikan kepercayaan kepada bawahannya).
Daftar Pustaka
Munandar, Ashar S. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: UI-Press.
Minggu, 24 Januari 2010
Langganan:
Komentar (Atom)
